Rabu, 17 Desember 2014

CAI *Cinta Alam Indonesia*


Peduli pada alam membuat siapapun akan lebih peduli pada saudaranya, tetangganya, bahkan musuhnya sendiri. Menghargai dan meyakini kebesaran Tuhan, menyayangi sesama dan percaya pada diri sendiri, itulah kunci yang dimiliki oleh orang – orang yang kerap disebut petualang. Mendaki gunung bukan berarti menaklukan alam, tapi lebih utama adalah menaklukan diri sendiri dari keegoisan pribadi. Mendaki gunung adalah kebersamaan, persaudaraan, dan saling ketergantungan antar sesama.















Di ketinggian kaki berpijak, di sanalah tempat yang paling damai dan abadi. Dekat dengan Tuhan dan keyakinan diri yang kuat. Saat kaki menginjak ketinggian, tanpa sadar kita hanya bisa berucap bahwa alam memang telah menjawab kebesaran Tuhan. Di sanalah pembuktian diri dari suatu pribadi yang egois dan manja, menjadi seorang yang mandiri dan percaya pada kemampuan diri sendiri. Rasa takut, cemas, gusar, gundah, dan homesick memang ada, tapi itu dihadapkan pada kokohnya sebuah gunung yang tak mengenal apa itu rasa yang menghinggapi seorang anak manusia.
















Gunung itu memang curam, tapi ia lembut. Gunung itu memang terjal, tapi ia ramah dengan membiarkan tubuhnya diinjak – injak. Ada kelelahan di kaki, ada rasa haus yang menggayut di kerongkongan, ada tanjakan yang seperti tak ada habis – habisnya. Namun semuanya itu menjadi tak sepadan dan tak ada artinya sama sekali saat kaki menginjak ketinggian. Puncak gunung menjadi puncak dari segala puncak. Puncak rasa cemas, puncak kelelahan, dan puncak rasa haus, tapi kemudian semua rasa itu lenyap bersama tirisnya angin pegunungan.





Lukisan kehidupan Sang Maha Pencipta di puncak gunung tidak bisa diucapkan oleh kata – kata. Semuanya cuma tertoreh dalam jiwa, dalam hati. Usai menikmati sebuah perjuangan untuk mengalahkan diri sendiri sekaligus menumbuhkan percaya diri, rasanya sedikit mengangkat dagu masih sah – sah saja. Hanya jangan terus – terusan mengangkat dagu, karena walau bagaimanapun, gunung itu masih tetap kokoh di tempatnya. Tetap menjadi paku bumi, bersahaja, dan gagah. Sementara manusia akan kembali ke urat akar di mana dia hidup.












12 komentar:

  1. Super kereeenn!! ����

    BalasHapus
  2. Modelnya juga mendukung jadi keren loooh... ^_^

    BalasHapus
  3. Setujuuu!!! Model yang pake syal yaa terutama, lakone. :D

    BalasHapus
  4. Yang pake syal gak cuma 1 loh...mana yg dimaksud?? syal merah putih ato syal ungu?ato syal yang lain??

    BalasHapus
  5. Syal ungu dooonggss… :p

    BalasHapus
  6. hehehehe.... masih kerenan top model syal merah putih tapi...

    BalasHapus
  7. Haha, preett. Btw siapa sih syal merah putih itu? Sok bgt. :D

    BalasHapus
  8. owww dia tuh salah satu admin blog ini kakak... ow gak cuma sok banget kak..tp juga agak alay gitu deeh ya harap maklum lah... :P

    BalasHapus
  9. Wuih admin!! Ada brp admin kak, mau dong jadi admin. :D tapi lebih enak njenengan aja yg ngisi blog kak, bahasanya syahdu enak dibaca meski udah berkali-kali khatam.

    BalasHapus
  10. Cma ada 2 admin kak...tu yg pke syal ungu sama yg pke syal merah putih doang... hmmmm klo dri pribadi sih suka sama tulisan admin yg syal merah putih ya... bhsanya itu berbobot klo mnurutku... trus jg jgn salah loh,,, tu admin syal merah putih sering jadi inspirasi nulisnya admin syal ungu... ^_^

    BalasHapus
  11. Hahaha uhukk aduuhh… ada hubungan istimewa ya admin 1 dan admin 2 kak? :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. buktikan cintamu dengan pena....gak ada yg istimewa selama belum sah...

      Hapus