Kamis, 02 Oktober 2014

Premarital Agreement

Premarital Agreement

Terinspirasi dari Jawa Pos yg lagi bahas masalah perjanjian pranikah penulis jadi dapat bahan utk sekedar nulis dan berbagi di blog ini, maklum blog-nya masih numpang punya orang, mohon ijin ya komandan… :)

Istilah perjanjian pranikah atau premarital agreement, bisa disebut juga prenuptial agreement / prenup sepertinya terdengar sangat tidak romantis saat pasangan yg akan menikah tiba-tiba memikirkan masalah perceraian. Hati pasangan yg tulus saling mencintai pasti bergetar saat notaris membacakan "apabila di kemudian hari terjadi perceraian antara pihak pertama dan pihak kedua…bla bla bla".

Kebanyakan perjanjian ini dibuat karena alasan harta, faktor keturunan (anak) atau bisa jg diluar kedua faktor tersebut yg bisa dibilang sederhana tapi konyol semisal pasangan Mark Zuckerberg dan Priscilla Chan, dmn dlm perjanjian tersebut pihak istri menuntut pihak suami utk menyediakan waktu paling tidak satu malam dan 100 menit per minggu utk quality time bersamanya. Bagi pendiri sosial media Facebook itu hal tsb tentu jadi tantangan krn pekerjaannya yg tidak mempunyai batasan waktu. Kita saja yang cuma pengguna FB kadang susah move on dari aktivitas update status, cek timeline dll apalagi ini owner-nya. :p





Lain lagi dengan pasangan Jessica Biel dan Justin Timberlake, karena JT dikenal playboy dan gak setia dlm prenup-nya menyebutkan "Jessica boleh menggugat cerai ketika JT ketahuan selingkuh dan JT harus membayar denda USD 500.000" hehe…

Pasangan Nicole Kidman dan Keith Urban bikin perjanjian kalo sepanjang pernikahan pihak Keith yg seorang pecandu kumat dan make narkoba lagi maka akan didenda USD 650ribu atau sama dgn 7,8 miliar.

Masih banyak contoh sebenernya, rata-rata perjanjian ini dilakukan oleh kalangan artis, yg paling gres dari pasangan lokal Raffi Ahmad - Nagita Slavina yg punya rencana menikah … krn mereka public figur jadi banyak masyarakat yg meniru.

Manfaat lain dgn adanya prenup adalah ketika pasangan berasal dari negara yg berbeda, sesuai UU yg berlaku di Indonesia hak memiliki properti akan hangus jika menikah dgn WNA. Maka dibuatlah perjanjian pisah harta antara pihak suami dan istri, tujuannya spy bisa mewariskan sesuatu kpd anak.

Well, menurut pendapat pribadi penulis sendiri insyaAlloh gak akan bikin perjanjian ini krn pernikahan itu sesuatu yg sakral dgn landasan agama dan non-materi, sudah seharusnya ketika menikah suami istri menjadi senasib sepenanggungan, sama-sama menanggung beban dan tidak dipisah-pisah.
Rejeki, jodoh dan mati Alloh yg mengatur … kalo toh penulis ada pengalaman itu sdh jadi qodar buat penulis, bukan berarti penulis tidak berikhtiar utk antisipasi tapi penulis tidak mau berandai-andai krn ini juga merupakan larangan agama. Maksudnya begini, dgn kita membuat perjanjian ini berarti kita mengandaikan (berangan-angan) jika nanti pada suatu saat kita bercerai maka kita akan punya suatu proteksi pada harta kita, sifatnya lebih mirip ke asuransi.

InsyaAlloh juga jodoh penulis bukan orang bule atau dari beda negara, mungkin dari Paris iya, Parangtritis atau pantai ria Surabaya :p … atau Jepang (jejere kupang), Jerman (jejere manukan), atau dari LA bukan singkatan Los Angeles, hanya dari kota sebelah saja. InsyaAlloh~

Wallohu alam. :)

*sumber dari Jawa Pos tgl 27-9-2014 rubrik FOR HER dgn judul Yang Rugi Cuma Hati*

4 komentar:

  1. hai penulis kece..hihii... postnya tak masukin label awesome ya... penulis klo bikin post rapi bgt ya kata2nya teratur.. emmm penulis sbnrnya aq kurang paham mslh sprt itu ...mw tanya ya premarital agreement itu boleh gak mnrt pandangan agama? sbnrnya aq baru tau ada premarital agreement itu sekitar 1 thn yg lalu dari salah satu temen yang dlu 1 kost wktu hbs nikah dy ngliatin surat perjanjiannya itu ke aku... so itu jadi PR bwt driku sndri pngn tak tanyakan sama cak leq ato mbk ghot gt deh nah mumpung penulis lg bahas ini jd amsol diterangin juga dari sisi agamanya gmn... oke Ajzkh ^_^

    BalasHapus
  2. Sepertinya sudah ada di postingan tersebut, coba dibaca lagi pelan-pelan. :) … tapi itu menurut pendapat pribadi ya, utk lebih mantepnya ditanyakan ke guru agama mbaknya saja.

    BalasHapus
  3. oke deh om penulis... #jwbne kurang greget... haha...

    BalasHapus
  4. Karena sudah dijawab pertanyaannya mbak areumdaun. ;)

    BalasHapus