Kamis, 22 Januari 2015

Dibalik Diamnya…

Dibalik Diamnya…

“Diam”.. mungkin kata tersebut sering dilekatkan pada sosok lelaki… walaupun tidak semua lelaki terlahir dengan perisai karakter “pendiam” tapi pada hakekatnya lelaki lebih diam daripada wanita… mungkin ini hanya penilaianku ato anggapanku saja klo seorang lelaki yang mempunyai masalah, tertekan atopun sedih mereka lebih banyak tidak bicara sementara wanita akan memilih bicara dengan orang lain…

Dalam asumsi dan pandangan sebagai anak gadis… sosok lelaki yang paling baik menurutku adalah Ayah… tidak bisa dipungkiri seorang Ayah biasanya lebih banyak diam daripada seorang Ibu…
Dulu, ketika ayah mengajarkan kita mengendarai sepeda dan saat ia menganggap bahwa kita telah mampu ia akan melepaskan dan membiarkan kita melakukannya sendiri. Sementara disisi lain mungkin Ibu akan berkata sebaliknya, karena begitu takut melihat anaknya terjatuh. Lalu.. Apakah itu berarti ayah kita tega melihat anaknya terluka? Tidak…!!! justru sebenarnya ayah yakin semua kan baik-baik saja. Ayah membiarkan kita karena yakin kita bisa dan Ayah bangga pada kita… dan itulah yang dinamakan “dibalik diamnya ada kebanggaan”



Bukan karena tidak sanggup berkata atau memukul, terkadang seorang ayah akan lebih banyak diam ketika marah dan menyerahkan urusan marah-memarahi kepada ibu. Kenapa? Ia memilih diam, karena cintanya pada kita. Dan diam adalah caranya marah..,hmmm sederhana, namun membekas di hati. Tujuannya? Hanya ingin membuat kita sadar betapa ia cinta dalam marahnya sekalipun.


“Ayah terus berbuat meski tanpa banyak bicara. Hanya untuk kita. Will Roger mengatakan, “Yang ayah wariskan kepada anak-anaknya bukan kata-kata atau kekayaan, tetapi sesuatu yang tak terucapkan, yaitu teladan sebagai seorang pria dan seorang ayah sejati” – Majalah Tarbawi hal.50 (edisi khusus Ayah Punya Cara Sendiri dalam mencintai Kita)

Ketika kita memiliki kesibukan baru di luar rumah, semakin tidak banyak waktu untuk bersamanya … dan teringat beberapa hari yang lalu ada salah satu teman yang melihatku menangis karena merindukan ayah dia menasehatiku “bersikaplah dewasa.. masa’ mau nikah sikapnya masih kaya’anak kecil” aku berpikir apakah dewasa bukan berarti tidak boleh menangis? Apakah salah jika aku merindukannya?
Keceriaan bersama ayah mungkin banyak aku alami pas aku masih kanak-kanak dan semakin berjalannya waktu saat aku beranjak remaja dan menuju kedewasaan dia lebih banyak terlihat diam… hingga aku yang selalu memulai menceritakan apa yang ingin aku ungkapkan tanpa harus ayah yang bertanya…

Waktu itu aku mengungkapkan ada seorang laki-laki yang mempunyai niat ingin mengajak anak gadis ayah untuk menjadi pendamping hidupnya.. aku menceritakan bagaimana sosok laki-laki itu pada ayah… awalnya aku berpikir ayah akan berkomentar atopun memberikanku pertanyaan-pertanyaan yang mungkin akan sulit aku jawab…tapi ternyata apa yang aku pikirkan tidak terjadi… dia memberikanku kepercayaan penuh untuk memilih jalan hidupku… dan aku harus bertanggung jawab dengan apa yang telah aku putuskan sendiri… dia hanya memberikan nasehat2 kecil di dalamnya yang mungkin akan berpengaruh besar terhadap jalan apa yang aku putuskan untuk memilihnya…

Dan waktu berlalu… setiap kali aku berjumpa dengan ayah yang tersirat dalam hati adalah aku ingin ayah menanyakan bagaimanakah sosok calon pendamping anaknya… tapi itu tidak terjadi …bahkan ayah tidak pernah menanyakan hal tersebut… sampai-sampai aku berpikir “apa ayah tidak peduli ato tidak mau tau”

Dugaanku mungkin telah terbantahkan ketika ada salah satu rekan kerja yang memberikanku nasehat2 tentang kehidupan…yah waktu itu entah bagaimana awalnya beliau menceritakan hal-hal seputar rumah tangga… karena dia adalah sosok “Ayah” untuk anak gadisnya yang sudah dewasa juga jadi tanpa aku harus cerita beliaupun tau apa yang aku pikirkan dan memberikan penjelasan berdasarkan pemikirannya yang mungkin bisa mewakili apa yang dipikirkan ayahku juga… singkat cerita kenapa Ayah lebih banyak diam dan gak bertanya kepada anaknya bukan berarti dia tidak peduli sama anak-anaknya… sebenarnya banyak yang ingin dia tanyakan tapi karena kasih sayangnya pada anak gadisnya dia idak ingin anaknya kepikiran…

aaahhh terlalu picik aku berpikir seperti itu aku yakin dibalik diamnya ayah ada cinta yang begitu besar padaku….


Maafkan kesalahanku ayah… love you..miss you… 

3 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Pembaca merasa kenek'an nih sama postingan kakak yg ini :'(

    BalasHapus