Dibalik Diamnya…
“Diam”..
mungkin kata tersebut sering dilekatkan pada sosok lelaki… walaupun tidak semua
lelaki terlahir dengan perisai karakter “pendiam” tapi pada hakekatnya lelaki
lebih diam daripada wanita… mungkin ini hanya penilaianku ato anggapanku saja
klo seorang lelaki yang mempunyai masalah, tertekan atopun sedih mereka lebih
banyak tidak bicara sementara wanita akan memilih bicara dengan orang lain…
Dalam asumsi
dan pandangan sebagai anak gadis… sosok lelaki yang paling baik menurutku
adalah Ayah… tidak bisa dipungkiri seorang Ayah biasanya lebih banyak diam
daripada seorang Ibu…
Dulu, ketika ayah mengajarkan kita
mengendarai sepeda dan saat ia menganggap bahwa kita telah mampu ia akan
melepaskan dan membiarkan kita melakukannya sendiri. Sementara disisi lain
mungkin Ibu akan berkata sebaliknya, karena begitu takut melihat anaknya
terjatuh. Lalu.. Apakah itu berarti ayah kita tega melihat anaknya terluka? Tidak…!!!
justru sebenarnya ayah yakin semua kan baik-baik saja. Ayah membiarkan kita karena
yakin kita bisa dan Ayah bangga pada kita… dan itulah yang dinamakan “dibalik
diamnya ada kebanggaan”
Bukan karena tidak sanggup berkata
atau memukul, terkadang seorang ayah akan lebih banyak diam ketika marah dan
menyerahkan urusan marah-memarahi kepada ibu. Kenapa? Ia memilih diam, karena
cintanya pada kita. Dan diam adalah caranya marah..,hmmm sederhana, namun membekas di
hati. Tujuannya? Hanya ingin membuat kita sadar betapa ia cinta dalam marahnya
sekalipun.
“Ayah terus berbuat meski tanpa
banyak bicara. Hanya untuk kita. Will Roger mengatakan, “Yang ayah wariskan
kepada anak-anaknya bukan kata-kata atau kekayaan, tetapi sesuatu yang tak
terucapkan, yaitu teladan sebagai seorang pria dan seorang ayah sejati” –
Majalah Tarbawi hal.50 (edisi khusus Ayah Punya Cara Sendiri dalam mencintai
Kita)
Ketika kita
memiliki kesibukan baru di luar rumah, semakin tidak banyak waktu untuk
bersamanya … dan teringat beberapa hari yang lalu ada salah satu teman yang melihatku
menangis karena merindukan ayah dia menasehatiku “bersikaplah dewasa.. masa’
mau nikah sikapnya masih kaya’anak kecil” aku berpikir apakah dewasa bukan
berarti tidak boleh menangis? Apakah salah jika aku merindukannya?
Keceriaan bersama
ayah mungkin banyak aku alami pas aku masih kanak-kanak dan semakin berjalannya
waktu saat aku beranjak remaja dan menuju kedewasaan dia lebih banyak terlihat
diam… hingga aku yang selalu memulai menceritakan apa yang ingin aku ungkapkan
tanpa harus ayah yang bertanya…
Waktu itu aku mengungkapkan
ada seorang laki-laki yang mempunyai niat ingin mengajak anak gadis ayah untuk menjadi
pendamping hidupnya.. aku menceritakan bagaimana sosok laki-laki itu pada ayah…
awalnya aku berpikir ayah akan berkomentar atopun memberikanku
pertanyaan-pertanyaan yang mungkin akan sulit aku jawab…tapi ternyata apa yang
aku pikirkan tidak terjadi… dia memberikanku kepercayaan penuh untuk memilih
jalan hidupku… dan aku harus bertanggung jawab dengan apa yang telah aku
putuskan sendiri… dia hanya memberikan nasehat2 kecil di dalamnya yang mungkin
akan berpengaruh besar terhadap jalan apa yang aku putuskan untuk memilihnya…
Dan waktu
berlalu… setiap kali aku berjumpa dengan ayah yang tersirat dalam hati adalah
aku ingin ayah menanyakan bagaimanakah sosok calon pendamping anaknya… tapi itu
tidak terjadi …bahkan ayah tidak pernah menanyakan hal tersebut… sampai-sampai
aku berpikir “apa ayah tidak peduli ato tidak mau tau”
Dugaanku
mungkin telah terbantahkan ketika ada salah satu rekan kerja yang memberikanku
nasehat2 tentang kehidupan…yah waktu itu entah bagaimana awalnya beliau
menceritakan hal-hal seputar rumah tangga… karena dia adalah sosok “Ayah” untuk
anak gadisnya yang sudah dewasa juga jadi tanpa aku harus cerita beliaupun tau
apa yang aku pikirkan dan memberikan penjelasan berdasarkan pemikirannya yang
mungkin bisa mewakili apa yang dipikirkan ayahku juga… singkat cerita kenapa
Ayah lebih banyak diam dan gak bertanya kepada anaknya bukan berarti dia tidak
peduli sama anak-anaknya… sebenarnya banyak yang ingin dia tanyakan tapi karena
kasih sayangnya pada anak gadisnya dia idak ingin anaknya kepikiran…
aaahhh terlalu
picik aku berpikir seperti itu aku yakin dibalik diamnya ayah ada cinta yang
begitu besar padaku….
Maafkan
kesalahanku ayah… love you..miss you…
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusPembaca merasa kenek'an nih sama postingan kakak yg ini :'(
BalasHapusmaaf ya..kalo menyinggung njenengan...
Hapus